/*----END HEADER Floating----*/ /*----START HEADER Floating----*/
/*----END HEADER Floating----*/

Cantik Tidak Berarti Putih - Definisi Kecantikan Hakiki

Cantik ialah suatu kata yang identik dengan perempuan. Siapa pun perempuan itu, dia tidak akan menolak jika dibilang cantik, terlihat cantik dan menjadi cantik. Dan untuk menjadi cantik tersebut, sebagian kaum hawa melakukan apa saja, mulai dari aktifitas standar seperti bersolek hingga aktifitas yang melibatkan peralatan canggih, kita sering menyebutnya operasi plastik atau juga Face Off yang saat ini marak diberitakan media.

Mungkin kita sering mendengar "Cantik itu putih..saya ingin yang putih bersih merona", begitulah kata salah satu bintang iklan TV produk sebuah kosmetik kecantikan. Media memiliki andil dalam membuat definisi cantik, dimana-mana iklan produk kecantikan menyergap kita. Citra perempuan sekarang tak jauh dari apa yang kerap muncul disana, tubuh langsing, rambut indah hitam terurai, wajah putih mulus dan bola mata indah berkat contact lens berwarna-warni.

Dari hasil data televisi yang dikumpulkan menunjukan bahwa produk seperti sampo, sabun, pelembut pakaian dan pemutih wajah termasuk dalam 20 pengiklan terbesar. belum lagi jika kita melihat iklan dimedia cetak, khususnya majalah remaja, halaman demi halaman penuh dengan produk kecantikan remaja.

Para kapitalis yang bergerak dalam industri kecantikan telah memanipulasi perempuan untuk membelanjakan lebih dari 33 milyar dolar per tahun untuk produk-produk diet, 20 milyar dolar untuk alat-alat kecantikan, 300 juta dolar untuk bedah kosmetik. Jika melihat dari datanya, jumlah tersebut memang tidaklah sedikit. selain itu industri fashion memaksa para perempuan untuk melakukan bedah kosmetik, menekan tubuh mereka dengan pakaian ketat atau menonjolkan kemolekan tubuh mereka, membuat pincang kaki dengan hak tinggi, serta memaksa untuk lapar atas nama diet.

Akhirnya bukan hal aneh lagi jika kita beliat salon kecantikan, spa, wellness center dan semacamnya sibuk melayani para perempuan yang siap menghamburkan ratusan ribu rupiah dalam waktu sekejap. Dua puluh tahun yang lalu salon hanya didatangi perempuan dengan batas usia termuda 18 tahun, namun sekarang  salon biasa melayani gadis berusia 10 tahun. Mereka bisa datang dua hingga tiga kali dalam seminggu.

Definisi dantik dan mitos bagi perempuan memang berubah-ubah dari masa ke masa. Sejarah manusia mencatat, deifnisi cantik terus menerus berubah. Di Eropa pada abad pertengahan kecantikan perempuan berkait erat dengan fertilitasnya atau dengan kemampuan reproduksinya. Pada abad ke  15 sampai abad 17 perempuan cantik adalah mereka dengan perut dan panggul yang besar serta dada yang montok, yakni bagian tubuh yang terkait dengan fungsi reproduksi. Pada awal abad ke -19 kecantikan didefinisikan  dengan wajah dan bahu yang bundar serta tubuh montok. Sementara itu, memasuki abad ke-20 kecantikan identik dengan perempuan dengan bokong besar dan paha besar. Di Afrika dan India umumnya perempuan dianggap cantik  jika ia bertubuh montok, terutama ketika ia telah menikah, sebab kemontokannya menjadi lambang kemakmuran hidupnya.

Tahun 1995,model Inggris Twiggy yang kurus krempeng menghentak dunia dengan tubuhnya yang tipis dan ringkih. Ia lalu digandrungi dan hampir oleh perempuan seantero jagat raya dan menjadi ikon bagi representasi perempuan modern saat itu. Apa yang dilakukan dunia mode lewat Twiggy saat itu merupakan upaya dekonstruksi citra montok dan sintal sebelumnya. Twiggy yang krempeng adalah representasi gerakan pembebasan perempuan dari mitos kecantikan sebelumnya dikaitkan dengan fungsi reproduktif. Namun pada kenyataanya kita telah terperangkap dalam berbagai citra dan mitos itu. Bukankah selama ini, para perempuan telah dipaksa  untuk berfikir dan bertindak sejalan dengan mitos dan citra kecantikan itu?

Entah sadar atau tidak kita telah mewariskan kepada generasi muda perilaku dan pola pikir yang terbelenggu dalam mitos dan pencitraan. Yang lebih menyedihkan, kita tak sadar bahwa definisi dan pencitraan kecantikan yang awalnya didefinisikan kaum lelaki lama kelamaan menjadi bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan dan buat oleh kaum perempuan itu sendiri, untuk menyenangkan kaum lelaki.

Umumnya perempuan menghadapi kontradiksi hebat di dalam dirinya sendiri dalam mengadopsi sifat-sifat feminim yang diajarkan oleh keluarga berdasarkan tradisi turun temurun. Tak semua merasa senang ketika harus menjadi seorang perempuan. Dari pribadi yang bebas dan spontan berbuat apa saja di masa kecil dan remajanya. Kini ia harus menekan kemauan dan perasaannya agar tidak berkarakter keras dan garang seperti lekaki. Itulah sedikit kegalauan hati seorang Simone de Beauvoir, dalam bukunya "The Second S3x" yang dicurahkan dalam kalimat "Bukan dengan menngkatkan nilainya sebagai manusia bahwasanya perempuan dihargai kaum lelaki, namun dengan membentuk dirinya sesuai dengan mimpi-mimpi mereka". Didalam bukunya, Simone lalu mengeluh, "Seseorang tidak dilahrkan sebagai perempuan, tetapi menjadi seorang perempuan". Dalam hal ini, kecantikan adalah tempat yang tepat untuk memelihara dominasi pandangan patriarkis. Sementara tidak ada tuntutan seperti itu bagi kaum lelaki.

Demikianlah tradisi: ia mengakar dan mengajar masyarakat tentang berbagai hal, termasuk bagaimana seharusnya menjadi perempuan atau lelaki. Mitos-mitos kecantikan juga lahir lewat tradisi dan sebagian dari kita sendiri tanpa kita sadari masih memelihara dan membiarkannya turun kepada generasi anak-anak kita. Mungkin sudah sering kita dengar dari orang tua tentang larangan terhadap kaum perempuan untuk tidak memakan buah pisan ambon, nanas, atau mentimun karena "Bisa menyebabkan timbulnya keputihan". Setelah melahirkan, perempuan masih harus minum jamu kunyit agar "Peranakan cepat kering" serta dilarang keras makan ikan gabus agar "peranakan tidak cepat mekar". Entah bagaimana penjelasannya  serta kebenarannya secara medis dan bukan tujuan saya disini untuk mendebat kebenarnnya. Tetapi adanya mitos itu rasanya membuat kita kehilangan hak untuk menikmati berbagai karunia alam yang diberikan Tuhan.

Memang tidak ada yang salah dengan perempuan yang melakukan perawatan tubuh, tetapi yang perlu direnungkan adalah bagaimana kita menyikapi trend tentang kecantikan, hal ini penting karena perempuan sebagai kaum yang diincar oleh para pemilik kapital memang mudah diuat tidak percaya diri dan tidak nyaman dengan kondisi fisiknya.

Perlu diketahui bahwa batin yang cantik diimplementasikan dengan sikap dan perbuatan yang dilakukan, perkataan yang diucapkan, senyum yang tulus dan hati yang ikhlas. Kenyataan membuktikan bahwa kecantikan batin lebih dikagumi, buktinya perempuan baik lebih disukai daripada perempuan cantik. Namun perempuan baik yang cantik adalah luar biasa.

Bagi para perempuan cantik yang selalu antusias merawat kecantikan dan menjadikan kecantikan fisik sebagai prioritas, jangan lupa juga untuk merawat kecantikan batinnya, agar anda memiliki kecantikan yang hakiki, bukan yang tampak dari luarnya saja. Karena cantik fisik bisa saja tidak ada artinya jika batinnya tidak cantik.

Sumber: Rahasia cantik Luar dalam - Daru Wijayanti



0 Komentar :

Poskan Komentar

Copyright ©2014 Blog Mamen