Perjuangan sebuah bangsa ini untuk meraih Kemerdekaan adalah hal yang sulit,penuh dengan perjuangan,kepahitan,kepedihan, dan kesengsaraan dimana para nenek moyang yag kita itu yanng merasakanya bagaimana mana mereka berjuang demi rakyat Indonesia,demi bangsa yang merdeka mereka rela mengorbankan harta benda, dan nyawa pun demi melihat anak cucunya kelak hidup bahagia.
Perjuangan melawan penjajah yang sangat sulit, tapi dengan tekad dan keberanian mereka melawan penjajah yang bersenjatakan lengkap, sementaramerek hanya membawa sebilah bambu runcing, Tapi mereka tak sedikitpun gentar apalagi takut dengan dentuman dentuman senjata api dan bom si penjajah.
Mereka seakan tak takut akan kematian, Jiwa mereka hanya utntuk bangsa ini, dan pada akhirnya Kemerdekaan pun tercapai Setelah berpuluh-puluh ribu jiwa melayang, Tak terharukah kalian melihat sejarah para moyang kita yangpenuh dengan penderitaan dan pada akhirnya kita semua yang merasakan kebahagiaan kita, Betapa tulusnya kasih sayang mereka kepada kita anak-anaknya, Apa kita tidak mau sekedar mengenang jasa-jasa mereka, Apa kalian tidak mau sekedar mengucap terimakasih atas jasa-jasanya yang telah mereka berikan kepada kita semua.
Maka dari itu blog mamen akan sharing puisi tentang perjuangan nenek moyang memperjuangkan kemerdekaan bangsa ini sehingga banyak sekali nyawa-nyawa mereka yang melayang dan sekarang terbaring antara Krawang-Bekasi, para pembaca setia blog mamen marilah kita membaca dan merenungkan puisi ini.!
KRAWANG-BEKASI
Kami yang kini terbaring antara Krawang-bekasi tidak bisa teriak
Kami yang kini terbaring antara Krawng-Bekasi tidak bisa teriak "Merdeka"
dan angkat senjata lagi.
Tapi siapakah yang tidak lagi mendengar deru kami,terbayang kami maju
dan mengedap hati.?
Kami bicara padamu dalam hening di malam sepi
Jika dara rasa hampa dan jam dinding yang berdetak.
Kami mati muda, yag tinggal tulang diliputi debu.
Kenang,Kenanglah kami,
Kami sufah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, Belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaan mu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Atas jiwa kami melayang untuk kemerdekaan
Kemenangan dan harapan
atau tidak untuk apa-apa
Kami tidak tahu, kami tidak bisa lagi berkata
kaulah sekarang yag berkata
Kami bicara padamu dalam hening dimalam sepi
Jika ada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak
Kenang, Kenanglah kami teruskan
Kenang, kenanglah kami
Teruskan, teruskan jiwa kami
Menjaga Bung Karno
Menjaga Bung Hatta
Menjaga Bung syahrir
Kami sekarang mayat
Berikankami arti
Berjagalah terus di garis batas pernyataan dan impian
Kenang-kenanglah kami
yang tinggal tulang-tulang diliputi debu
Beribu kami terbaring antara krawang-Bekasi
PAHLAWAN
Hari pahawan kami,
Kau selalu melindungi kami
kau telah berjuang untuk kami
dan seluruh warga-warga dan teman-teman kami
juga negara demi kami
Seandainya itu semua
Bukan dari pengorbanan yang rela
dan semangat para pahlawan kita
maka negara ini akan hancur selamanya
Jadi, terimalah terimakasih kami semua
Ibu Kartini
Dahulu wanita selalu diinjak-injak
tetapi sekarang tidak lagi
Karena dahulu Ibu Kartini berjuang keras
untuk menyelamatkan kaum wanita
Pengorbanan
Detik-detik penuh dengan ancaman
ketika raga di pucuk darah penghabisan
mata tombak yang selalu mengintai
Darah mengucur deras bagai badai
Tak kenal senjata, tak kenal mati
Hanya kaulah pahlawan sejati
Senyum suci
senyum suci tlah kau raih
terima kasih pahlawan suci
semangat juang tinggi tah kau raih
Indonesiaku gemilang kini
UNTUK IBU PERTIWI
Bukit-bukit di negeriku kini tenggelam
oleh darah dan air mata
Apa yang dapat dilakukan oleh seorang anaknya yang merantau?
Untuk masyarakatnya yang sengsara?
Apa pula gunanya keluh kesah
seorang penyair yang sedang tidak dirumah?
Seandainya rakyatku mati dalam pemberontakan
menuntut nasibnya
Aku akan berkata "Mati dalam perjuangan lebih mulia
dari hidup dalam penindasan"
tapi rakyatku tidak mati sebagai pemberontak
kematian adalah satu-satunya penyelamat mereka
dan penderitaan adalah tanah air mereka
Ingatlah saudaraku
bahwa syiling yang kau jatuhkan
ke telapak tangan yang menghibur di hadapanmu
adalah satu-satunya jembatan yang menghubungkan
kekayaan hatimu dengan cinta di hati Tuhan
MERDEKA
Aku mau bebas dari segala
Merdeka
Juga dari ida
Pernah
Aku percaya pada sumpah dan cinta
menjadi sumsum dan darah
seharian kukunyah-kumamah
Sedang meradang
segala kurenggut
Ikut bayang
Tapi kini
hidupku terlalu tenang
selama tidak antara badai
kalah menang
Ah! jiwa yang menggapai-gapai
mengapa kalau beranjak dari sini
kucoba dalam mati
(Khairil Anwar)
INDONESIAKU MERDEKA
INDONESIA, -ku....
berabad-abad kau dijajah
berabad-abad kau ditindas
berabad-abad kau diremehkan
Tapi, INDONESIA -ku tetap lah maju!
INDONESIA -ku
tak pernah mengenal kata letih
selalu maju dengan penuh kesuskesan
tak ada lagi yang menindas Indonesiaku
semuanya
telah berujung dengan perdamaian
tak ada lagi permusuhan antara bangsa dan negara
tak ada lagi penindasan
Bangsaku, kini telah maju
Tak ada kemiskikinan, tak ada kelaparan...
tak ada
PENGIBAR BENDERA
Sejak ibukota dihamparan jalan raya
mata lelah berkusam wajah
ringkuk ini badan bergumam sejalan
tidak ada gundah tersirat kini
maju jalan mobil orang berdasi
lihat kibaran benderaku ini
merah putih bukan kainku
adalah jiwa adalah raga
sekali-kali jangan kau ubah lain lagi
biar bukan istana tempatku
biar jalur kereta naunganku
biar nasi bungkus dan tempe bacem
biar yang peduli atau tidak ambil duli
tiada butuh aku dikasihani
getar gemetar tubuhku
ah! persetan!
kibaran ini biar kujalani sampai mati.
NEGERI INI
Saat sarafku dipengapkan meja 1/2 biro
kupahat hatiku itu lagi
pada prasasti tugu negreriku
agar para pahlawan negeri ini
tak lagi keluhkan sesal
harus lahir di negeri ini
Sukarno-sukarno
reformasi
harus berkembang di negriini
Sukarno-sukarno bangkit di negeri ini
Suharto-suharto reformasi
agar Dipenogoro tak lagi keluhkan java
agar wolter menginsidi tak tangisi celebes
Agar Patimura tak sia-siakan Maluku
agar Indonesia-ku
tak lagi tangisanku







0 Komentar :
Poskan Komentar