/*----END HEADER Floating----*/ /*----START Adsense----*/ /*----END Adsense----*/ /*----START Adsense----*/ /*----END Adsense----*/ /*----START Adsense----*/ /*----END Adsense----*/ /*----START HEADER Floating----*/
/*----END HEADER Floating----*/

Kumpulan Puisi Tentang Alam (Lengkap - Terbaru)

Bagi Anda yang mencintai dunia kasusastraan, khusunya puisi Maka Mamen yakin Anda akan menyukai kumpulan puisi-puisi yang khusus menggambarkan tentang keindahan alam yang dipaparkan dibawah ini. Diantara puisi-puisi tentang alam tersebut antara lain adalah: tentang indahnya sebuah desa, tentang kicauan burung, indahnya sebuah pantai laut, merdunya suara gemercik hujan, sepinya kemarau, kerusakan alam, angin, halilintar dan masih banyak lagi istilah lainnya yang terkandung dalam isi puisi-puisi tersebut.

Puisi tentang alam memang banyak dimunculkan, karena banyak sekali para pembuat puisi yang suka dengan keindahan alam ini, terutama bagi para pemerhati lingkungan. Dimana seperti kita kethui bersama bahwa bumi kita ini hari demi hari dikeruk keindahannya hanya karena materi semata, manusia yang serakah menguras kekayaan alam dan merusak keseimbangannya, maka tidak heran kalau kita sering melihat berita tentang bencana alam terjadi hampir disemua penjuru dimuka bumi ini, mungkin alam sudah marah karena keserakahan manusia yang menghuninya. Maka dari itu, mari kita jaga sama-sama bumi kita yang indah ini, karena ini adalah rumah kita yang harus kita pelihara bersama-sama.



ALAM DESAKU


Kulihat sawah membentang
warna hijau bagai permata alam
kucoba telusuri jalan
akankah tetap begitu

Kuingin tetap begini
terlihat apa adanya
kuingin tetap begitu
terlihat kenyataanya

Mentari mulai tenggelam
dan..akupun teteap disini
menikmati alam yang ada
anugerah dari yang kuasa

Oh..alam desaku
...aman dan damai
Oh.... alam desaku
....lestarikanlah



KICAU BURUNG


Kicau burung yang menyusup lewat
sela daun mangga bersama hangatnya mentari pagi
adalah sebuah misteri
pada siapa rindu kubagi

Kicau burung yang menggetarkan ibaku
daun terbang entah kemana
adalah sebuah duka
yang tertinggal dari kibasan
sayap lukanya


DI TEPI LAUT


Diujung musim yang bertiup angin
bagai denguas gurun pasir
cahaya melompat dalam lautan salju
diseretnya langkah dimalam itu
dalam putih waktu
kutawarkan pada-Mu
jenuh semesta ini kupenuhi isi
dihidupmu nasib dunia
bentangkan kedua tangan mu
pohon-pohon kering di tepi laut padang pasir
menyanyi dalam gaib malam
kepada seluruh dunia
yang menelankan dipucuk pantai
kuburlah hidup tanpa kesadaran



BERITA ALAM


Halilintar menggelegar, daun-daun berguguran
Langit biru menghilang
Burung terbang tinggalkan sarang
Rintik hujan berjatuhan, payung-payung dikenakan
Pohon tumbang tercabut dari akarnya
Awan hitam semakin mengembang
Kulangkahkan kakiku menuju cakrawala
Gapai harapan mimpi indah
Kupetik senar gitarku nyanyikan lagu tra la la
Merah putih sudah kusam warnanya
Burung garuda entah terbang kemana
Pancasila tak lagi bermakna
Indonesiaku tertutup wajahnya
Badai datanglah hentak kegersangan
Hujan air turunlah sirami kekeringan
Mentari terbitlah ubah kesuraman alam ini
Nergri ini....


HAMPARAN MUTIARA


Sepi hening dikeramaian
menatap hari tanpa dedaunan
tak satupun serpan daun menerawang
menutupi diri dalam ketenangan
berdiri sepi menatap rembulan
ditemani sang kekasih malam
hamparan mutiara bersinar terang
tanpa bunyi rembulan malam
diri runtuh benuh keikhlasan
menuntun diir mengharap penerangan
wujut nyata tanpa bayangan
mensyukuri indahnya angin
menitih air dari rembulan
melapas angan angan menunggu ke ikhlasan
agar datang ketenangan


LEMBAYUNG JINGGA


Lembayung jingga masih setia
diatas bukit yang sama
beranjak perlahan melepas senja
menunggu sesaat sambut kejora

Sedikt engkau terlihat resah
saat pekat hendak menjelma
seakan kau terluka
saksikan kiprah para manusia

Raut wajahmu tak seindah dulu
selalu ceria dan tak pernah sendu
kini kau simpan dendam menggebu
pada kami yang merasa tak tahu

Kau tatap kami dengan sinarmu yang tajam
bagai ceria yang siap menghujam
tanpa merasa ada batas yang menghadang
karena kami yang selalu jauh pada Sang Khalam



PUISI ALAM


Bertambah panasnya dunia ini
semakin tak terasa sejuknya angin
semakin tak terdengarnya kicauan nyanyian alam
semakin hilang jernihnya air sungai

hanya keringat manusia serakah yang sering menetes
dibumi ini semakin keringnya tanah yang dia pijak
tak ada lagi pohon yang tumbuh
hanya gedung yang sanggup bertahan saat ini

Kemana manusia yang dulu merindukan kesejukan dan kedamaian?
kini hilang, melupakan keheningan dan kesejukan
udara bersih...
tidakah manusia merindukan itu semua

Sadarlah manusia serakah, masih banyak pekerjaan
yang tidak harus mmerusak tempat tinggalmu sekarang
bumi ini rumah kita bersama
jaga dan rawatlah rumah kita ini.



KEMARAU DIAM


Kemarau diam di jiwaku. Serangkai
bayang-bayang randu tumbang, berisi adzan
dengan pilu. Pahamilah bagaimana mataku rabun,
jumpalitan, begitu cemburu. Aku susuri ketiakmu,
tapi rupanya jalanan makin malam, 
meski aku telah tinggalkan dirimu. Sepanjang keriuhan kelu,
mayatku terpencil. Ingus para pejalan bergayutan
di jenggotku

Seluruh kesumat dan derita memacu
pengetahuanku. Arwahku memanggil namamu,
sementara panorama lebur, selangkah demi selangkah
memudar, menjelajahi batu. Di dasar pijaran kabut,
aku adalah jenazah bagi setiap hasrat dan kesintalanmu.
Kegembiraanku mengintip tato kupu-kupu di pusaramu.
Malam makin dingin, mendzikirkan diamku.

Penampakan-penampakan gaib, samun, mencair
hitam bersama salju.
Karena bunga-bunga gugur adalah sihir
yang menghidupkan bangkai-bangkai, juga sajak-sajakku.
Demikianlah dingin meledak bersama shalatku.
Pohon-pohon yang rabun dalam gerimis kabur 
bersama gemuruh. Aku wudhlu matahari
meniupkan terompet seribu tahun
di hari-hari pagi talkin seratus gerhana menafasiku.
Dunia kelak hanya kelam yang mempasakkan
gaung-gaung. Halimun menghirup mayat-mayat 
rumput. Aku kini pelangi. Peneguh riwayat
ketelanjangan
letusan-letusan peluru.




LAGU OMBAK


Pantai yang perkasa adalah kekasihku
Dan aku adalah kekasihnya
Akhirnya kami dipertautkan oleh cinta
Namun kemudian bulan menjarakkan aku darinya
Kupergi padanya dengan cepat lalu berpisah
dengan berat hati.

Membisikan selamat tinggal berulang kali.
Aku segera bergerak diam-diam 
dari balik kebiruan cakrawala
untuk mengayunkan sinar keprakan buihku
kepangkuan keemasan pasir

Dan kami berpadu dalam adunan terindah
Aku lepaskan kehausannya
Dan nafasku memenuhi segenap relung hatinya
dia melembutkan suaraku dan
mereda gelora didadaku.

Kala fajar tiba, kuucapkan prinsip cinta di telinganya
dan dia memelukku penuh damba
diteriksiang kunyanyikan dia lagu harapan
Diiringi kucupan-kucupan kasih sayang
Gerakku pantas diwarnai kebimbangan
Sedangkan dia tetap sabar dan tenang.

Dadanya yang bidang meneduhkan kegelisahanku
Kala air pasang kami saling memeluk
Kala surut aku berlutut menjamah kakinya
Memanjatkan doa seribu sayang
Aku selalu berjaga sendiri

Menyusut kekuatanku
tetapi aku pemuja cinta
dan kebenaran cinta itu sendiri perkasa
mungkin kelelahan akan menimpaku
Namun tiada aku bakal binasa.


TAMAN


Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki
Bagi kita bukan halangan
Karena
dalam taman punya berdua
kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang
kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan 'nusia


SENJA DI PELABUHAN KECIL


Ini kali tidak ada yang mencari cinta
diantara gudang, rumah tua, ada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut

Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang
menyinggung muram, desir hari lari berenang
menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak
dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.

Tiada lagi. Aku sendiri. Berjalan
menyisir semenanjung, masih pengap harap
sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan
dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.




5 Komentar :

fachrul arhinza mengatakan...

copas ya kak , tugas nihh....

Mamen Aja mengatakan...

@Fachrul: SIlahkan gan,, belajar yg rajin ya!!

Amat D'Mxcool mengatakan...

kak citraan nya mana
contoh puisinya yg panjang jugha kak

Hermawan riyan mengatakan...

izin Copas ya kak, buat Tugas....hehehe :)

Mamen Aja mengatakan...

@Amat D'Mxcool: Updae terus BlogMamen ya Gan, nanti ada puisi-puisi baru :D

@Hermawan riyan : SIlahkan kalo mau copas tapi jangan lupa cantumkan sumber nya ya Gan..Hehe :D

Poskan Komentar

Copyright ©2014 Blog Mamen